Senin, 26 Desember 2016

Objek kajian filsafat

 
Isi filsafat ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan. Objek yang dipikirkan oleh filsafat ialah segala yang ada dan mungkin ada. ”Objek filsafat itu bukan main luasnya”, tulis Louis Katt Soff, yaitumeliouti segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia. Oleh karena itu manusia memiliki pikiran atau akal yang aktif, maka manusia sesuai dengan tabiatnya, cenderung untuk mengetahui segala sesuatu yang ada dan mungkin ada menurut akal piirannya. Jadi objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya.
Para ahli menerangkan bahwa objek filsafat itu dibedakan menjadi dua, yaitu objek material dan forma. Objek material ini banyak yang sama dengan objek material sains. Sains memiliki objek material yang empiris. Filsafat menyelidiki onjek filsafat itu juga tetapi bukan bagian yang empiris melainkan bagian yang abstrak. Sedang objek forma filsafat tiada lain ialah mencari keterangan yang sedalam-dalamnya tentang objek materi filsafat (yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada).
Dari uraian yang tertera diatas, maka jelaslah bahwa:
1.      Objek materia filsafat ialah sarwa-yang-ada yang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga persoalan pokok, yakni:
a.       Hakekat Tuhan
b.      Hakekat Alam, dan
c.       Hakekat Manusia.
2.      Objek forma filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya sampai ke akhirya) tentang objek materi filsafat (sarwa-yang-ada).
  Penyelidikan dan Pembagian Filsafat Menurut Objeknya
Dalam buku Filsafat Agama: Titik Temu Akal dengan Wahyu karangan Dr. H. Hamzah Ya’qub dikatakan bahwa objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya. Di sinilah diketahui bahwa sesuatu yang ada atau yang berwujud inilah yang menjadi penyelidikan dan menjadi pembagian filsafat menurut objeknya ialah:
a.      Ada Umum
Adalah menyelidiki apa yang ditinjau secara umum. Dalam realitanya terdapat bermacam-macam yang kesemuanya mungkin adanya. Dalam bahasa Erops, Ada Umum ini disebut “Ontologia” yang berasal dari kata Yunani “Onontos” yang berarti ada dan dalam bahasa arab sering menggunakan Untulugia dan ilmu kainat.
b.      Ada Mutlak
Adalah sesuatu yang secara mutlak yakni zat yang wajib adanya, tidak tergantung kepada apa dan siapapun juga. Adanya tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan dan harus terus ada, karena adanya dengan pasti. Ia merupakan asal segala sesuatu. Ini disebut Tuhan. Dalam bahasa Yunani disebut “Theodicea” dan dalam bahasa arab “Ilah atau Allah.
c.       Comologia
Yaitu filsafat yang mencari hakikat alam, dipelajari apakah sebenarnya alam dan bagaimanakah hubungannya dengan Ada Mutlak. Cosmologia ini ialah filsafat alam yang menerangkan bahwa adanya alam adalah tidak mutlak, alam dan isinya adanya itu karena dimungkinkan Allah. Ada tidak mutlak, mungkin ada dan mungkin lenyap sewaktu-waktu pada suatu masa.
d.      Antropologia
Antropolgia (Filsafat Manusia), karena manusia termasuk ada yang tidak mutlak, maka juga menjadi objek pembahasan. Apakah manusia itu sebenarnya, apakah kemampuan-kemampuannya dan apakah pendorong tindakannya. Semua ini diselidiki dan dibahas dalam Antropolgia.
e.       Etika
Adalah filsafat yang menyelidiki tingkah laku manusia. Betapakah tingkah laku manusia yang dipandang baik dan buruk serta tingkah laku manusia mana yang membedakannya dengan lain-lain makhluk.
f.       Logika
Logika ialah filsafat akal budi dan biasanya juga disebut mantiq. Akal budi adalah yang terpenting dalam penyelidikan manusia untuk mengetahui kebenaran. Tanpa kepastian tentang logika, maka semua penyelidikan tidak mempunyai kekuatan dasar. Tegasnya tanpa akal budi maka tidak akan ada penyelidikan. Oleh karena itu, dipersoalkan apakah manusia mempunyai akal budi dan dapatkah akal budi itu mencari kebenaran. Dengan segera timbul pula soal, apakah kebenaran itu dan sampai dimanakah kebenaran dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Maka penyelidikan akal budi itu disebut Filsafat Akal Budi atau Logika. Penyelidikan bahan dan aturan brpikir disebut ilogica minor, adapun yang menyelidiki isi berpikir disebut logica mayor. filsafat akal budi ini disebut Epistimologi dan ada pula yang menyebut Critia, sebab akal yang menyelidiki akal.
  Seperti ilmu pengetahuan lainnya, filsafat juga mempunyai objek kajian yang meliputi objek materi dan objek formal. Dalam kaitan ini, Louis O. Kattsoff menulis bahwa : “Lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya, yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu apa saja yang ingin diketahui manusia”.
Sedangkan, A.C.Ewing mengatakan : “pertanyaan – pertanyaan pokok filsafat adalah Truth (kenenaran), Matter (materi), Mind (budi), the Rlation of Matter and Mind (hubungan materi dan budi), Space and Time (ruang dan waktu), Cause (sebab), Freedom (kemerdekaan), Monism versus Pluralism (monisme melawan pluralisme) dan God (Tuhan).
Sementara M.J. Langeveld menyatakan : “Bahwa hakikat filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan segala sesuatu (sarwa) yang ada secara radikal dan menuru sistem.”
Objek Materi dan Objek Formal ilsafat :
Objek Materi Filsafat, yaitu hal atau bahan yang didelidiki (hal yang dijadikan sasaran penyelidikan). Atau segala sesuatu yang ada. “ada” di sini mempunyai tiga pengertian, yaitu ada dalam kenyataan, pikiran dan kemungkinan.

Objek Formal Filsafat yaitu sudut pandang (point of view), dari mana hal atau bahan tersebut dipandang. Objek Formal filsafat adalah menyeluruh secara umum. Menyeluruh di sini berarti bahwa filsafat dalam memandangnya dapat mencapai hakikat (mendalam), atau tidak ada satupun yang ebrada di luar jangkauan pembahasan filsafat.
Objek formalnya adalah metode untuk memahami objek materil tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Pengertian lain menyebutkan bahwa Objek Formal Filsafat adalah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam – dalam sampai ke akar – akarnya) tentang objek materi filsafat.
Menurut Ir. Poedjawijatna, objek materi filsafat adalah ada dan mungkin ada. Objek materi tersebut sama dengan objek materi dari ilmu seluruhnya. Objek material filsafat adalah segala yang ada, baik mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Yang tampak adalh empriris sedangkan yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosof membagi objek material filsafat menjadi tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam alam pikiran dan yang ada dalam kemungkinan. Yang menentukan perbedaan ilmu yang satu dengan yang lainnya adalah objek formalnya, sehingga kalau ilmu membatasi diri dan berdasarkan pengalaman, sedangkan filsafat tidak membatasi diri, filsafat hendak mencari keterangan yang sedalam – dalamnya, inilah objek formal filsafat.

Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa ilmu filsafat pada prinsipnya memiliki 2 objek substansif dan 2 objek instrumentatif, yaitu :
  1. Objek Substantif yang terdiri dari 2 hal
a)      Kenyataan
Fakta (kenyataan) yaitu empiri yang dapat dihayati oleh manusia. Dalam memahami fakta ini ada beberapa aliran filsafat yang memberikan pengertian yang berbeda – beda, diantaranya yaitu positivme (hanya mengakui pengayatan yang empirik dan sensual. Sesuatu sebagai fakta apabila ada korespondensi antara sensual satu dengan yang lainnya. Data empiriksensual tersebut harus objektif tidak boleh masuk subjektifitas peneliti. Fakta itu yang faktual ada phenomenologi. Fakta buka sekedar data empirik sensual tetapi data yang sudah dimaknai sehingga ada subjektifitas peneliti tetapi, subjektifitas peneliti disini tidak berarti sesuai selera peneliti.subjektif dalam arti tetap selektif sejak dari pengumpulan data, analisis data sampai kesimpulan.data selektifnya disa berupa ide moral dan lain-lain.orang yang mengamati terkait langsung pada konsep-konsep yang dimiliki.
b)      Kebenaran
Positivisme, benar substantif yang menjadi identik dengan benar sesuai dengan empiri sensual. Kebenaran positivistik didasarkan pada ditemukan frekwensi tinggi atau fariansi yang besar. Bagi positivisme sesuatu itu benar apabila ada korespondwnsi antara fakta yang satu dengan fakta yang phenominology. Kebenaran dibuktikan berdasarkan pada oenemuan yang esensial yang dipilih dari non esensial atau esksemplar dan sesuai dengan skema tertentu. Secara dikenal 2 teori kebenaran, yaitu kebenaran korespondensi dan teori kebenaran koherensi. Bagi phenominology fenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji kebenarannya dengan yang dipercaya. Realisme methafisik ia mengakui kebenaran bila yang faktual itu koheren dengan kebenaran objektif universal. Realisme sesuatu yang benar apabila didukung teori dan ada faktanya. Realisme baru menutut adanya konstruk teori (yang disusun deduktif probabilisti) dan adanya empiri terkonstruk pula. Islam sesuatu itu benar apabila yang empirik faktual yang koheren dengan kebenaran transeden berupa wahyu. Pregamatisme mengakui kebenaran apabila faktual berfungsi. Rumusan substantif tentang kebenaran ada beberapa teori, menurut Michael Williams ada 5 teori kebenaran yaitu:
– Kebenaran Preposisi yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada kebenaran preposisinya baik preposisi formal maupun preposisi materialnya.
– Kebenaran Koherensi atau Konsistensi yaitu teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suau pernyataan denag pernyataan-pernyataan yang lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui kebenarannya.
– Kebenaran Performatif yaitu teori kenbenran yang mengakui bahwa sesuati itu dianggap benar apabila dapat diaktualisasikan dalam tindakan.-Kebenaran Praqmatik yaitu toeri kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu benar apabila mempunyai kegunaan praktif. Dengan kata lain sesuatu itu dianggap benar apabila mendatangkan manfaat dan salah apabila tidak mendatangkan manfaat.
  1. Obyek Instrumentatif yang terdiri dari dua hal:
a. Konfirmasi

Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut denga menggunakan landasan : asumsi, postulat atau axioma yang sudah dipastikan benar. Pemaknaan juga dapat ditampilkan sebagai konfirmasi probabilistik dengsn mengggunakan metode induktif, deduktif, reflektif.
Pemaknaan juga dapat ditmpilkan sebagai konfirmasi probabilistik dengan menggunakan metode induktif, deduktif, reflektif. Dalam ontologi dikenal pembuktian apriori dan aposteriori. Untuk memastikan kebenaran penjelasan atau kebenaran perdiksi para ahli mendasarkan pada dua aspek : (1) Aspek Kuantitatif (2) Aspek Kualitatif. Dalam hal konfirmasi.sampai saat ini dikenal ada tiga teori konfirmasi, yaitu:
  • Decision Theory: menerapkan kepastian berdasar keputusan apakah hubungan antara hipotesis dengan evidensi memang memiliki manfaat aktual.
  • Estimation Thory: menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar atau salah dengan menggunakan konsep probabilitas.
  • Reliability Analysis: menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas evidensi (yang mungkin berubah-ubah karena kondisi atau karena hal lain) terhadap hepotesis.
  Logika inferensi
Study logika adalah study tentang tipe-tipe tata pikir. Pada mulanya liogika dibangun oleh Aristoteles (384-322 SM) dengan menegetengahkan tiga prinsip atau hukum pemikiran, yaitu: Prinsipium Identitatis (Qanun Dzatiyah), Principium Countradictionis (Qanun Ghairiyah) dan Principium Exclutii Tertii (Qanun Imtina’). Logoka ini sering juga disebut dengan logika inferensi karena konstribusi utama logika Aristoteles tersebut adalah untuk membuat dan menguji inferensi. Dalam perkembangan selanjutnya Logika Aristoteles juga sering disebut dengan logika tradisional. Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerapkan ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi aktual dan deskriptif yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuan yang juga filusuf. Para filosof terlatih dalam metode ilmiah dan sering pula menyntut minat khusus dalam beberapa disiplin ilmu.



Pengertian Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi
  Filsafat Ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
 
Filsafat ilmu menurut Waryani Fajar Riyanto (2011 :141) merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistimologis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :
·         Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)
·         Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
·         Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis).
Senada dengan pendapat di atas, Jujun S. Suriasumantri (2009 : 33) mengemukakan bahwa filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu.
Menurut Surajiyo (2007:66), filsafat ilmu dimulai dengan aliran rasionalisme, emprisme kemudian kritisisme. Rasionalisme adalah paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, analisis yang berdasarkan fakta. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi akal sebagai sumber dari segala pembenaran.
Sedangkan menurut The Liang Gie (2012 : 61) filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dari segala segi dari kehidupan manusia. Landasan dari ilmu mencakup :
o      konsep-konsep pangkal
o      anggapan-anggapan dasar
o      asas-asas permulaan
o      struktur-struktur teoritis
o      ukuran-ukuran kebenaran ilmiah
Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi pemekarannya bergantung pada hubungan timbal balik dan saling pengaruh antara filsafat dan ilmu. Filsafat ilmu dimulai dengan aliran rasionalisme, emprisme kemudian kritisisme. Rasionalisme adalah paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan dan analisis yang berdasarkan fakta. Kritisisme merupakan filsafat yang terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio sebelum melakukan pencarian kebenaran.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat Ilmu merupakan suatu bidang studi filsafat yang obyek materinya berupa ilmu pengetahuan dalam berbagai jenis dan perwujudannya. Jadi meliputi semua lingkup ilmu pengetahuan.
Secara spesifik substansi filsafat ilmu menurut Waryani Fajar Riyanto (2011 :147-151) terdiri dari empat bagian, yaitu
1.       fakta atau kenyataan
2.       kebenaran
3.      konfirmasi
4.      logika inferensi
Pendapat tersebut juga didukung oleh pernyataan dari Noeng Muhadjir (2011: 9-20) bahwa telaah substansi dari filsafat ilmu terdiri dari empat hal diantaranya :
1.       Fakta
2.       Kebenaran
3.      konfirmasi
4.      Logika inferensi yaitu alat berpikir untuk membuat prediksi ilmiah atau ramalan ilmiah kejadian yang akan dating dengan menggunakan system rasional tertentu.
Sedangkan fungsi filsafat ilmu menurut Waryani Fajar Riyanto (2011 : 146) antara lain :
1.       Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada
2.       Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat yang lain.
3.      Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia
4.      Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
5.      Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat diambil kesimpulan, makna adanya filsafat ilmu adalah sebagai alat untuk menemukan kebenaran, memberikan pandangan hidup, dan mengembangkan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga berdaya guna dalam kehidupan manusia

Pengertian Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan merupakan ilmu filsafat yang mempelajari hakikat pelaksanaan dan pendidikan. Bahan yang dipelajari meliputi tujuan, latar belakang, cara, hasil, dan hakikat pendidikan. Metode yang dilakukan adalah dengan menganalisa secara kritis struktur dan manfaat pendidikan. Filsafat pendidikan berupaya untuk memikirkan permasalahan pendidikan.Salah satu yang dikritisi secara konkret adalah relasi antara pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran. Salah satu yang sering dibicakan dewasa ini adalah pendidikan yang menyentuk aspek pengalaman. Filsafat pendidikan berusaha menjawab pertanyaan mengenai kebijakan pendidikan, sumber daya manusia, teori kurikulum dan pembelajaran serta aspek-aspek pendidikan yang lain.


Filsafat dan pendidikan merupakan dua istilah yang berdiri pada makna dan hakikat masing-masing, namun ketika keduanya digabungkan ke dalam satu tema khusus, maka ia pun memiliki makna tersendiri yang menunjuk ke dalam suatu kesatuan pengertian yang tidak terpisahkan. Kendatipun filsafat pendidikan telah dipandang sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, namun bukanlah berarti bahwa kajiannya hanya sekedar menelaah sendi-sendi pendidikan dan atau filsafat semata. Filsafat pendidikan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari filsafat secara keseluruhan, baik dalam sistem maupun metode.
Ketika konsenterasi dan fokus kajian filsafat ditujukan pada persoalan-persoalan yang berhubungan dengan seluk beluk pendidikan secara khusus, maka berarti upaya filosofis diarahkan pada suatu bidang kajian yang dalam hal ini adalah problem kependidikan sebagai sebuah realitas. Upaya semacam inilah yang disebut dengan filsafat pendidikan. Atas dasar ini pula, maka pengenalan secara komprehensif tentang filsafat pendidikan, mestilah pula diawali dengan pemberian pemahaman yang mendalam mengenai filsafat pemahaman akan filsafat sangat menentukan sistem dan pola yang akan ditempuh oleh seseorang dalam menggunakan daya pikirnya memandang realitas. Hal ini tentu memiliki konsekuensi dan aplikasi pada kegiatan filsafat pendidikan sebagai implementasi metode filsafat di bidang pendidikan.
Bila pengertian filsafat yang telah dibahas pada bab sebelumnya dikaitkan dengan masalah pendidikan, tentu berimplikasi pada upaya-upaya berpikir krisis, sistematis, radikal dan universal tentang berbagai persoalan yang berkenaan dengan seluk beluk dunia pendidikan dan kemajuan pendidikan itu sendiri. Filsafat pendidikan secara langsung memberikan perhatiannya pada apa yang merupakan kegiatan filsafat secara keseluruhan, baik dalam sistem maupun dalam orientasi. Hal yang membedakan aktivitasnya hanyalah pada konsenterasinya yang ditujukan untuk menganalisis realitas yang terbatas dalam berbagai problem dan isu pendidikan. 
Berbagai pengertian filsafat pendidikan telah dikemukakan para ahli. Filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mngatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan. Artinya, filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk mencapainya. Dalam hal ini, filsafat, filsafat pendidikan, dan pengalaman kemanusiaan merupakan faktor yang integral.[1]
Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany menyebutkan bahwa filsafat pendidikan adalah pelaksanaan pandangan filsafat dan kaidah-kaidah filsafat dalam bidang pengalaman kemanusiaan yang disebut dengan pendidikan. M. Arifin M.Ed. mengemukakan bahwa filsafat pendidikan adalah upaya memikirkan permasalahan pendidikan. Ali Khalil Abu Al-Ainain mengemukakan pula bahwa filsafat pendidikan adalah upaya berpikir filosofis tentang realitas kependidikan dalam segala lini, sehingga melahirkan teori-teori pendidikan yang berguna bagi kemajuan aktivitas pendidikan itu sendiri.
Filsafat pendidikan juga bisa didefinisikan sebagai kaidah filosofis dalam bidang pendidikan yang menggambarkan aspek-aspek pelaksanaan falssafah umum dan menitikberatkan paa pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam upaya memecahkan persoalan-persoalan pendidikan secara praktis.
Menurut John Dewey, filsafat pendidikan merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya piker (intelektual), maupun daya perasaan (emosional), menuju tabiat manusia. Sementara menurut Thompson, filsafat artinya melihat suatu masalah secara total dengan tanpa ada batas atau implikasinya; ia tidak hanya melihat tujuan, metode atau alat-alatnya, tapi juga meneliti dengan saksama hal-hal yang dimaksud. Keseluruhan masalah yang dipikirkan oleh filosof  tersebut merupakan suatu upaya untuk menemukan hakikat masalah, sedangkan suatu hakikat itu dapat dibakukan melalui proses kompromi.[2]
Menurut Imam Barnadib, filsafat pendidikan merupakan ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Baginya filsafat pendidikan merupakan aplikasi sesuatu analisis filosofis terhadap bidang pendidikan. Sedangkan menurut Brubachen, filsafat pendidikan adalah seperti menaruh sebuah kereta di depan seekor kuda, dan filsafat dipandang sebagai bunga, bukan sebagai akar tunggal pendidikan. Filsafat pendidikan itu berarti secara bebas dengan memperoleh keuntungan karena punya kaitan dengan filsafat umum. Kendati kaitan ini tidak penting, tapi yang terjadi ialah suatu keterpaduan antara pandangan filosofis dengan filsafat pendidikan, karena filsafat sering diartikan sebagai teori pendidikan dalam segala tahap.
Untuk mendapatkan pngertian filsafat pendidikan yang lebih sempurna (jelas), ada baiknya kita melihat beberapa konsep mengenai pengertian pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah bimbingan secara sadar dari pendidik terhadap perkembangan jasmani dan ruhani anak didik menuju terbentuknya manusia yang memiliki kepribadian yang utama dan ideal. Yang dimaksud kepribadian yang utama atau ideal adalah kepribadian yang memiliki kesadaran moral dan sikap mental secara teguh dan sungguh-sungguh memegang dan melaksanakan ajaran  atau prinsip-prinsip nilai (filsafat) yang menjadi pandangan hidup secara individu, masyarakat maupun filsafat bangsa dan Negara.
Dengan demikian, dari uraian di atas dapat kita tarik suatu pengertian bahwa filsafat pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normatif dalam bidang pendidikan merumuskan kaidah-kaidah, norma-norma dan ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia dalam hidup dan kehidupannya.
 
Membahas mengenai filsafat pendidikan tidak akan terlepas dari pokok bahasan tentang pendidikan itu sendiri. Pendidikan di dunia modern saat ini cenderung dilakukan melalui interaksi antara guru dan muridnya. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi di beberapa abad silam dimana pendidikan cenderung dipelajari tanpa panduan guru, namun dengan mempelajari kejadian-kejadian yang terjadi di alam sekitar manusia. Ketika pendidikan didapatkan melalui alam, maka filsafat pendidikan belum berjalan disana, sedangkan ketika pendidikan didapatkan melalui ajaran guru, maka timbulah apa yang disebut dengan filsafat pendidikan.
Filsafat pendidikan berasal dari dua kata yaitu kata filsafat dan kata pendidikan. Filsafat sendiri berasal dari bahasa yunani “Philos” yang memiliki arti kecintaan dan “sophia yang memiliki arti kebijaksanaan. Jika diterjemahkan dari dua kata ini, maka filsafat dapat diartikan sebagai kecintaan akan kebijaksanaan. Jika diartikan secara lengkap maka filsafat dapat diartikan sebagai kajian mendalam yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan didasarkan atas kecintaan seseorang terhadap ilmu pengetahuan tersebut.
Jika diterapkan dalam pendidikan, maka lahirlah apa yang disebut dengan filsafat pendidikan yang artinya adalah sebuah ilmu filsafat yang terfokus pada bidang pendidikan. Dalam hal ini, filsafat benar-benar difokuskan di setiap bagian dari bidang pendidikan dari mulai kulit hingga akar-akarnya. Filsafat pendidikan akan membahas ilmu mengenai pendidikan itu sendiri secara mendalam dan meluas di setiap bagian dari ilmu pendidikan.
Menurut Zanti Arbi (1988), pengertian filsafat pendidikan yaitu :
  • Menginspirasi, yang dapat diartikan mampu memberikan inspirasi bagi para pendidik untuk menjalankan berbagai ide dalam pengembangan pendidikan.
  • Menganalisis, yang dapat diartikan mampu memeriksa secara detail setiap bagian dari pendidikan hingga validitas dari pendidikan itu sendiri dapat diketahui secara jelas.
  • Memperspektifkan, yaitu mengenai upaya memberi pengarahan dan penjelasan kepada pendidik mengenai pendidikan secara lebih luas dan mendalam.
  • Meninvestigasi, yaitu meneliti dan memerikasa tingkat kebenaran dari berbagai teori yang ada di dunia pendidikan.
Dalam filsafat pendidikan seorang guru akan banyak belajar mengenai setiap elemen yang berkaitan dengan teknis dan teori di bidang pendidikan. Hal ini terdiri dari apa yang dipercayai oleh seorang guru tentang pendidikan ataupun prinsip yang dijadikan panduan dan pedoman dalam setiap tindakan profesional seorang guru. Filsafat pendidikan pada dasarnya ada di setiap hati nurani para guru. Tanpa disadari ataupun tidak, setiap guru memiliki seperangkat keyakinan tentang teknis dan teoritis dalam memberikan dan menularkan pendidikan kepada para muridnya. Dalam hal ini, setiap guru memiliki caranya masing-masing dalam mengajarkan pendidikan kepada para peserta didik yang diharapkan dengan apa yang diajarkan ini dapat menghasilkan kehidupan yang lebih baik lagi.
 


Selasa, 20 Desember 2016

Pengertian Filsafat

Dalam kehidupan sehari – hari kita mungkin sering mendengar kata filsafat. Lalu apakah kita sudah mengetahui pengertian dari filsafat tersebut? Banyak juga orang yang belum mengetahui makna sesungguhnya dari filsafat padahal filsafat adalah ilmu yang penting karena filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. Selain itu banyak pula yang belum mengetahui ruang lingkup dari filsafat. Sesungguhnya ruang lingkup filsafat saling berhubungan dengan pengertian filsafat itu sendiri.

Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia yang berasal dari kata filosofein yang berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tesebut juga berasal dari kata Yunani philosophis yang berasal dari kata kerja philein yang berarti mencintai, atau philia yang bererti cinta dan Sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata Inggris Philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan“.
Arti kata tersebut diatas belum memperhatikan makna yang sebenarnya dari kata filsafat sebab pengertian “mencintai” belum memperhatikan keaktifan seorang filosof untuk memeperoleh kearifan dan kebijaksanaan itu. Menurut pengertian yang lazim berlaku di Timu (Tiongkok dan India), seseorang disebut filosof bila dia telah mendapatkan atau telah meraih kebijaksanaan. Sedangkan menurut pengertian lazim di Barat, kata “mencintai” tidak perlu mendapat kebijkasanaan karena itu yang disebut filosof atau “orang bijaksana” mempunyai pengertian yang berbeda dengan pengertisn di Timur. Dengan menyebut filsafat sebagai “cinta akan kebijaksanaan”, maka timbullah pertanyaan : apakah kebijaksanaan yang dikejar itu? Yang jelas kebijaksanaan itu ada sangkut pautnya dengan mengerti (know) dengan pengetahuan (knowledge). Akan tetapi tidak setiap “mengerti” itu kebijaksanaan atau bahkan filsafat. Yang pasti bahwa kebijaksanaan dan filsafat itu suatu bentuk tertentu, boleh dikatakan merupakan pengetahuan dalam bentuknya yang tertinggi.
Refleksi manusia terhadap realitas mungkin berawal dari ketakjuban atau keheranan, ketidakpuasan, keraguan atau kesangsian dan kesadaran akan keterbatasan (ketidakberdayaan). Hal – hal itu kemudian diteruskan menjadi sebuah pertanyaan, dan pertanyaan dicoba jawab secara sistematis, logis dan mendasar. Dari sinilah asal mula filsafat itu lahir.

Pemikiran terhadap filsafat ada saat kesadaran manusia terhadap potensi akal budinya muncul. Menurut Frans Dahler dan Eka Budianta, filsafat ada saat 1200 SM di Tiongkok, India dan Yunani. Walaupun terkadang, banyak pemikiran tentang filsafat lahir di Yunani Kuno. Para ahli filsafat dan yang dijadikan rujukan terhadap pengertian filsafat lahir dikota ini.
(Apa pengertian ahli) Akan tetapi, seiring dengan berkembangnya zaman, para ahli filsafat mengembangkan pengertian filsafat atau filosofi, Beekman contohnya, mengatakan bahwa pengertian filosofi (filsafat) adalah melihat sesuatu dengan perhatian dan minat, berpikir tentang sesuatu dan menyadarinya. Pengertian filsafat yang serupa dilakukan oleh John S. Brubacher dan Dogabel Runes.
(Apa pengertian ahli) Filsafat menurut John Brubacher bahwa filsafat yang berasal dari kata Yunani filos dan sofia yang berarti cinta kebijaksanaan atau belajar. Lebih dari itu dapat diartikan cinta belajar pada umumnya, dalam proses pertumbuhan ilmu pengetahuan (sains) hanya terdapat dalam apa yang kita kenal dengan filsafat. Untuk alasan ini sering kita katakan bahwa filsafat adalah induk atau ratu ilmu pengetahuan. “Philosophy was, as its etymology from greek word filos and sofia, suggest love of wisdom or learning. More over it was love of learning in generals, it sub-sumed under one heading what today we call sciences as well as what we now call philosoph, It is for reason that philosophy is often refered to as the mother as well as the queen of the sciences”.
Filsafat menurut Dogobel Runes bahwa filsafat berasal dari kata Yunani philein, Cinta; sophia, kebijaksanaan (Gr. philein to love, sophiawisdom) asalnya penjelasan rasional dari sesuatu (the most general science) prinsip prinsip umum yang menerangkan segala fakta, dalam pengertian ini tidak dibedakan dengan sains,….Sekarang, secara populer, filsafat didefinisikan sebagai ilmu dari ilmu, kritik dan sistematisasi atau organisasi dari semua ilmu pengetahuan, yang berasal dari ilmu empiris, pembelajaran yang rasional, pengalaman biasa atau dimananpun.
Pengertian filsafat menurut Anton Bakker, Achmad Charris, Zubair, bahwa filsafat merupakan eksplisitas tentang hakikat realitas yang ada dalam kehidupan manusia, yakni hakikat manusia itu sendiri, hakikat semesta, bahkan hakikat Tuhan, baik menurut segi struktural, maupun menurut segi normatifnya.
(Apa pengertian ahli) Roger Garaudy (1986) menambahkan bahwa pengertian filsafat yang berbeda beda itu wajar, akan tetapi filsafat tidak memberi sarana sarana, akan tetapi mengajukan pertanyaan tentang tujuan dan tentang makna makna.
 Dalam buku yang ditulis oleh Harold Titus dan kawan kawan (1984:11-14) dituliskan “Ada yang mengemukakan bahwa filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan alam yang biasa diterima secara tidak kritis. Filsafat juga diartikan sebagai suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi. Lalu ada yang mengatakan filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Filsafat juga dapat didefinisikan sebagai analisis logis dari  bahasa, serta penjelasan  arti kata dan konsep. Sedangkan pendapat lain mengemukakan bahwa filsafat adalah sekumpulan problema problema yang langsung mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat”.


Pengertian Filsafat menurut Soetrionon dan Rita Hanafie (2007) bahwa secara umum filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Ilmu pengetahuan tentang hakikat yang menanyakan apa hakikat atau sari atau inti atau esensi segala sesuatu. 
(apa pengertian ahli) Menurut Poedjawijatna, filsafat adalah ilmu yang mencari sebab yang sedalam dalamnya bagi segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, hal ini dilanjukan oleh Jujun Suriasuamantri, bahwa pengertian filsafat dapat juga berupa sebaagai suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam dalamnya. Hal ini sesuai dengan kata Socrates bahwa tugas filsafat yang utama adalah mempersoalkan jawaban, bukan menjawab pertanyaan kita.
(apa pengertian ahli) Martini Djamaris, berpendapat bahwa filsafat adalah suatu proses yang mempertanyakan tentang arche (dasar) atau asal mula atau asal usul dan berusaha menjawabnya dengan menggunakan logos (rasio). Dengan demikian, filsafat adalah penyelidikan yang dilakukan dalam rangka memahami hakikat alam dan realitasnya dengan mengandalkan akal budi, jelas Socrates. Beda dengan pendahulunya ini Plato mendefinisikan filsafat sebagai pendidikan tentang sebab sebab dan asas asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada.
Berbeda dari yang diatas, dalam buku yang ditulis oleh Conny R. Semiawan (1988:37) pengertian filsafat  yang lain dikemukakan oleh Walter Kuffman, Beerling, dan Corn Verhoeven. Menurut Berling, Pengertian filsafat adalah pemikiran yang bebas, di ilhami oleh rasio, mengenai segala sesuatu yang muncul dari pengalaman pengalaman (experience). Menurut Walter Kuffman, bahwa pengertian filsafat adalah pencarian akan kebenaran dengan pertolongan fakta-fakta dan argumentasi argumentasi, tanpa memerlukan kekerasan dan tanpa mengetahui hasilnya terlebih dahulu.Pengertian filsafat menurut Verhoeven, filsafat adalah meradikalkan keheranana ke segala penjuru.
(Apa pengertian ahli) Harun Nasution dalam bukunya pada halaman 24 (1973), bahwa pengertian filsafat adalah berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama) dan dengan sedalam dalamnya, sehingga sampai ke dasar dasar persoalan.
(Apa pengertian ahli) Selanjutnya, dalam Bukunya Imam Barnadib (1982:11-12) bahwa filsafat sebagai pandangan menyeluruh dan sistematis. Disebut meyeluruh, karena pandangan filsafat bukan hanya sekedar pengetahuan, melainkan suatu pandangan yang dapat menembus di balik pengetahuan itu sendiri. Dengan pandangan seperti ini akan terbuka kemungkinan untuk menemukan hubungan pertalian antara semua unsur yang dipertinggi, dengan mengarahkan perhatian dan kedalaman mengenai kebijakan. Dikataakan sistematis, karena filsafat menggunakan berpikir secara sadar, teliti, teratur, sesuai dengan hukum hukum yang ada.
Pengertian filsafat menurut Imanuel Kant dalam buku karangan Lasiyo dan Yuwono, 1985:6,  dan bahwa filsafat adalah pokok pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya terdapat 4 persoalan yaituL apakah yang dapat kita ketahui, apa yang boleh kita kerjakan, sampai dimana harapan kita, dan terakhir, apa yang itu manusia? Metafisika akan menjawab pertanyaan pertama, etika menjawab kedua, dan ketiga serta keempat dijawab oleh agama dan antropologi.
Berdasarkan JMW Bakker, definisi filsafat adalah refleksi nasional atau keseluruhan keadaan agar tercapai hakikat dan mendapatkan hikmah.
(Apa pengertian ahli)
Selanjutnya, Harold Titus membagi pengertian filsafat menjadi 5 buah yaitu, filsafat adalah kumpulan dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasa diterima secara kritis. Pengertian filsafat yang kedua bahwa filsafat adalah suatu proses pemikiran atau kritik terhadap kepercayaan (believe) dan sikap (attitude) yang sangat kita junjung tinggi. Kemudian definisi filsafat yang ketiga adalah usaha untuk mendapatkan gambara secara keseluruhan. Lalu filsafat adalah analisa logis dari bahasan serta penjelasan tentang konsep dan kata. Yang terakhir, pengertian filsafat adalah sekumpulan masalah-masalah (problema problema) yang secara langsung mendapat perhatian manusia dan yang dicari dijawabnnya oleh ahli filsafat.
Lalu, Anton Bakker menambahkan bahwa filsafat memiliki tempat dan kedudukan yang khusus. Filsafat meliputi semua dimensi ilmu ilmu lain, tidak hanya sebatas satu bidang saja atau lapisan kenyataan. Oleh karena itu, filsafat bersifat total. Filsafat mempelajari sesuatu yang menjadi objek formalnya menurut sebab-sebab yang mendasar (per ultima causas).
Filsafat sendiri terbagi atas 4 cabang utama yang membuatnya lebih spesifik yaitu filsafat ilmu pengetahuan (epistemologi, filsafat moral (etika), filsafat seni (estetika), metafisika, filsafat pemerintahan (politik), filsafat agama, filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat matematika, filsafat sejarah, filsafat hukum (Jujun S. Suriasumantri, 2000).
Setelah membahas dan membaca pengertian dan definisi filsafat atau filosofi, maka dapat ditarik bahwa garis besar filsafat memiliki hubungan dengan upaya menemukan kebenaran tentang hakikat sesuatu yang ada melalui penggunaan kemampuan akal secara optimal. Kebenaran yang dihasilkan oleh pemikiran filsafat adalah jawaban jawaban dalam bentuk gagasan atau ide. Adapun tujuan dari filsafat adalah untuk memperoleh kebenaran yang bersifat dasar dan menyeluruh dalam sistem yang konseptual. Filsafat berguna dalam kearifan hidup (Yakob). Filsafat menghasilkan pula kebenaran yang bersifat abstrak, spekulatif akan tetapi tidak mampu mengetahui bagaimana cara mengadakannya.
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan 

Tuhan di Abad XX

Dari abad xx kegelisahan-kegelisahan tentang Tuhan sudahbanyak bermunculan bahkan kalangan Ilmuan Barat pada zaman ini bukan hanya menyimpan kegelisahan mereka dalam benanknya namun pada zaman ini mereka sudah mengungkapkannya kedalam tulisan yang tentuna lebih serius. Hal ni pernah dipertanyakan oleh filosof Inggris Francis Bacon (1561-1626). Kemudian dikembngkankan oleh filosof Prancis, August Comte (1798-1857) yang dikenal dengan teori positivisme-nya, yang menganggap peran agama dan Tuhan sudah digantikan oleh kemampuan kreatif manusia. Namun kaum positivis belum memberikan uraian lebih mendalam tentang bagaimana peran agama dan eksistensi Tuhan.
Kalangan Ilmuan Kontemporer mulai  melakukan studi mendalam dengan menggunakan metodologi komprehensif yang hasilnya sungguh mengesankan, karena tanpa rasa takut dan beban mereka menuangkan ide-ide segarnya kedalam buku. Mereka amat berbeda dengan para pendahulunya di abad pertengahan, yang harus menggunakan bahasa konotatif untuk menjelaskan ide-ide sensitif, seperti mempertanyakan peran agama dan keberadaan Tuhan.
Di antara karya-karya tersebut adalah sebagai berikut:
1.       The End of Faith oleh Sam Harris, beliau adalah seorang kandidiat doktor dalam bidang filsafat di Stanford University, diterbitkan oleh W.W. Norton & Company, New York, tahun 2005. Yang kemudian menjadi The Best Seller vrsi The New York Times pada tahunnya. Selama 20 tahun terakhir beilau melakukan studi mendalam tentang tadisi keagamaan di dunia Timur dan Barat. Sam Harris mencoba menganalisis adanya kecenderungan paradoks antara logika dan agama dalam dunia moder.
Sebagai seorang yang meimiliki keahlian neurosciences, beliau menggunakan keahliannya itu untuk memahami dan merekomendasikan beberapa hal yang  menarik untuk dicermati. Beliau mempertanyakan ekslusivitas agama-agama yang tergabung di dalam Abrahamic Religion, yakni agama Yahudi, Protestan, Katolik dan Islam. Sebagai contoh, ketika masing-masing agama ini berbicara tentang jalan keselamtan, maka sepertinya sulit memberikan pengakuan jalan keselamatan di luar dirinya.
Kesimpulan Sam Harris setelah mempelajari ajaran agama anak keturunan Nabi Ibrahim ini, menganggap bahwa agama-agama ini terancam akan ditinggalkan pemeluknya di era modern, karena doktrin ajaran agama, semakin banyak yang tidak sejalan dengan logika. Agama yang bisa bertahan di masa depan ialah agama yang masuk akal dan sejalan dengan logika universal, hak-hak asasi dan naluri kemanusiaan.
2.       Tomorrow’s God, Our Greatest spiritual Challange, karya Neale Donald Walschi, penulis buku The Best Selling Conversation with God. Buku ini memuat pertanyaan bombastis yang mengajak anak manusia untuk mencari Tuhan baru, karena Tuhan lama dianggap sudah tidak relevan lagi. “We need a new God. The Old God isn’t working anymore”. Tuhan yang dikenal selama ini (The Yesterday’s God) mengakibatkan anak manusia berhadap-hadapan satu sama lain bahkan sampai peperangan yang menimbulkan banyak korban. Tuhan di masa depan ialah Tuhan yang bisa memberikan sinergitas kemanusiaan.
3.       The Little Book of Atheist Spiritualiy, karya Andre Comte-Sponville, seorang filosof kawakan Prancis saat ini. Beliau pernah menjadi profesor di Universitas Sorbonne, Paris, dan telah mempersembahkan beberapa karyanya dalam bidang filsafat. Termasuk buku ini yang diterjemahkan ke dalam belasan bahasa di dunia termasuk bahasa Indonesia dengan judul “Spiritualitas Agama tanpa Tuhan”.
Berbeda dengan Sam Harris lewat karyanya The End of Faith yang menggagas adanya sistem ketuhanan tanpa agama, maka Comte-Sponville menggagas spiritualitas tanpa Tuhan, alias spiritualitas ateis. Comte-Sponvillemngklaim dirinya ateis namun sebenarnya ia masuk ke dalam ranah teosufi.  Pernyatan-pernyataannya bukan hal baru dalam dunia sufi. Ia berusaha mencari ekspresi baru yang humanis di dalam menerjemahkan kegelisahan spiritualnya.
4.       Bibliographie du XX Siecle, Le Testament Philosophique, karya besar Prof. Roger Graudy, seorang folosof kenamaan di Prancis. Yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Prof. H.M. Rasyidi dengan judul “Mencari Agama pada Abad XX”. Dalam buku ini Graudy membuat sebuah pamflet agama di abad XX. Ia menilai agama-agama di barat gagal membimbing ilmu pengetahuan sehingga terjadi distrosi antara alam, manusia dan Tuhan. Agama di abad XX ialah agama yang mamp mengutuhkan hubungan antara alam, manusia, dan Tuhan. Bagi Graudy, agama di abad XX adalah Islam, karena subtansi dan inti ajaran Islam ialah hubungan simetri antara ketiga hal tersebut.
Jauh sebelum Graudy, Pof. LW.H. Hull menulis sebuah buku monumental  berjudul History and Philosophy od Science: An Introduction (1959). Dalam buku ini Hull sudah memprediksi suatu masa dimana ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan pembimbing morl bernama agama. Namun agama mana yang akan sanggup membimbing manusia di abad modern itu sedang dicari di dalam perjelanan sejarah. Hull mensyaratkan agama yang dapat diterima di masa depan ialah agama yang menghargai ilmu pengetahuan, hak asasi manusia, realistis dalam arti mengakui kepentingan kehidupan dunia, tidak melulu asketis, tidak meligitimasi stratifikasi sosial, dan yang lebih penting ajarannya logis.

Kelompok yang tetap mempertahankan tradisi lamanya tanpa peduli perkembangan apapun disekitarnya. Di Timur kelompok ini dianggap sebagai kelompok mainstream dan mayoritas, tetapi di Barat kelompok ini diposisikan sebagai kelompok sempalan (fringe)
Sedangkan kelompok yang kedua yaitu kelompok yang mengakui adanya Tuhan tetapi cenderung tidak percaya terhadap institusi dan pranata agama . mereka percaya adanya Tuhan tapi tak mau terikat dengan tradisi keagamaan. Mereka berkeyakinan Tuhan hanya satu untuk semua gama, karena itu bebas untuk mengikuti ritual-ritual kebaktian agama lain.
Kelompok ketiga yaitu ateis, yang memang sudah tidak mau mengakui adanya Tuhan atau tidak mau pusing apakah Tuhan itu ada atau tiada. Namun begitu mereka belum bisa disebut sebagai ateis sejati karena mereka masih percaya terhadap kecenderungan hati nurani dan bagi mereka itu lebih penting darpada ajaran agama atau sabda Tuhan, yang tidak lain bagi mereka adalah kamuflase dan legitimasi kepentingan tokoh-tokoh agama.
Kelompok keempat, mengalihkan perhatian dan kegelisahannya pada nilai-nilai ketimuran, khuusnya nilai-nilai keislaman. Mereka tidk puas dengan agama yang dianutnya selama ini tetapi mereka tidak berani menjadi ateis. Ia juga masih percaya adanya Tuhan dan masih mengganggap perlunya agama berperan di dalam kesidupan, meskipun dalam skala yang terbatas.
Sebuah survei yang di ungkapkan oleh Monsignor Vittorio Formenti dalam sebuah terbitan resmi vatikan , L’Osservatore Romano, bahwa sepanjang sejarah baru kali ini posisi agama Katolik digeser kedudukannya sebagai agama terbesar dunia oleh agama Islam, ini sungguh menarik dan sangat menggemparkan.  Kini jumlah penduduk muslim mencapai 1,25 miliar atau 19.2% dari total penduduk dunia dan penganut agama Katolik berjumlah 17,4% dari total penduduk dunia..
Islam di dunia barat berkembang pesat  justru ketika Islam sedang banyak dicerca karena penyerangan kelompok teroris dengan menggunakan baju agama. Ini mengingatkan kita di abad pertengahan, justru ketika sedang terjadi Perang Salib antara Timur-Islam melawan Eropa-Kristen, Islam berkembang begitu pesat di Eropa.

Senin, 19 Desember 2016

Tahukah Antum?

Assalamualaikum..
Tahukah Antum?
Menurut Pak Dedi selaku dosen PLB universitas sultan Ageng Tirtayasa, beliau menuturkan berkata bahwa menurut beliau dari beberapa buku yang beliau baca dan dari pengalaman beliau bahwa selama ini yang sering kali mengalami kelainan atau berkebutuhan khusus itu kebanyakan adalah anak laki-laki, dan dari dari beberapa sumber yang ada pun fenomena ini masih belum terjawab mengapa demikian. Namun menurut beliau memang zigot yang akan membentuk laki-laki cenderung lebih sulit dan lebih lemah sedangkan zigot yang akan menjadi perempuan itu lebih mudah dan lebih kuat sehingga kita ketahui bahwa di zaman sekarang ini lebih banyak perempuan dari pada laki-laki, dari sini kita tahu bahwa perempuan itu kuat dan perempuan itu hebat, terbukti dengan perempuan itu mengandung dan melahirkan. Namun begitu Allah telah melebihkan pula kekuatan fisik terhadap kaum laki-laki ini terbukti lewat ayatnya dalam Qur'an surat An-nisa ayat.
الرجال قوامون على النساء

Sabtu, 17 Desember 2016

[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan

Nama : Siti Lulu Maftuhah
NIM : 2227150074
Kelas : 3 B PGSD